People i following
Close
  1. Because you’re the one who used to be around for me :’)
  2. [Maaf menuhin dashboard sekali-sekali^^]

    Tadi sore sewaktu gue mau masuk indomaret beliin bokap minum, ada anak sekitar umur 3 taun nyeker sambil lari-lari nyalip gue, kantongnya bunyi berisik suara duit koin. Abis itu dia dorong-dorong pintu dan biarpun dengan antusiasme yang segitu besar pintunya ga kebuka juga, jadi gue bukain *meskipun gondok disalip secara ekstrim* Dan lanjut dengan antusiasme yang masih berlebihan dia menghambur ke dalem. Pokoknya itu anak antusias banget dah, semacem gue waktu mau masuk ke musikplus ngambil pesenan album mylo xyloto, bedanya gue ga nyeker dan gak ada malaikat cantik yang bukain pintu wkwk. Oke lanjut. Abis masuk gue gapeduli lagi itu anak mau ngapain di dalem, mau lari-lari sambil manjat atau kegiatan ekstrim lainnya gue udah ga mikirin dan gapeduli-peduli amat.

    Nah begitu gue mau ke kasir, satu-satunya mbak yang jaga kasir (gue gangerti juga kenapa mbak ini cuma sendirian) lagi ngelayanin si bocah pecakilan tadi di depan freezer eskrim, jadi kasirnya kosong. Otomatis gue terpaksa merhatiin lagi si anak ini dan percakapannya dengan si mbak-mbak indomaret.

    “Yang itu harganya beda lagi, mau yang mana jadinya?” Kata si mbak kalem. Gue ga denger si anak respon apa pokoknya next thing I know sambil loncat-loncat dia bawa eskrimnya ke kasir diikutin mbaknya, sekarang gue ragu dia mau beli eskrim apa numpang atletik di sini.

    “Uangnya pas ya dek.” Kata si mbak lagi dari balik kasir sambil memperlihatkan beberapa recehan di telapak tangannya. Dan tanpa respon berarti si anak langsung ngacir keluar, gue gatau kekuatan dari mana tapi kali ini anak itu bisa buka pintu sendiri. Dan ngeliat dia lari nyeker entah kemana sambil megang eskrim dengan muka sumringah kayak abis dapet doorprize itu gue gabisa nggak senyum.

    Lucu. Gue dapet persepsi-persepsi sendiri. Mungkin anak itu rajin nabung buat bisa beli eskrim. Atau mungkin itu hasil dia ngamen. Gue gabisa menyimpulkan dengan jelas apa yang seorang anak 3 tahun nyeker lari-lari masuk indomaret tanpa orang tua lakukan di real life. Intinya dari cara dia ngerespon transaksi eskrim itu gue yakin beli eskrim adalah salah satu life achievement dia. Mungkin kalo dia punya blog dia bakal menceritakan kisah eskrimnya, atau ngetweet bersyukur abis beli eskrim, atau masukin instagram gambar editan eskrimnya, atau check in foursquare di indomaret. Siapa yang tau.

    Mungkin tadi cuma kejadian sepele yang sekedar lalu di ingetan gue atau si mbak-mbak indomaret atau si anak itu sendiri. Tapi bagi gue ada yang menarik di situ. Menarik gimana kebahagiaan bisa lo temuin sesimpel beli eskrim di sore yang bahkan nggak panas. Eskrim seharga 3ribuan bro… Gue iri sama anak itu, mungkin karena akhir-akhir ini gue belum nemu momen dimana gue bakal lari-lari sambil loncat masuk ke indomaret, atau ekspresi apapun yang nunjukin gue seneng. Intinya gue iri, dan kangen, masa-masa dimana gue sedekat itu sama kebahagiaan. Bukannya gue nggak bahagia ya, tapi selama lo beranjak dewasa gue rasa semua orang emang mulai kehilangan masa-masa bisa jadi sesimpel dan seantusias itu.

    Atau, kalo gue berhak sotoy, mungkin eskrim itu bentuk kebahagiaan dari segala macem pontang panting idupnya yang bisa dibilang baru sebentar? I mean, who knows kalo ini hari dimana bapak si anak itu uang hasil markirnya (asli gue tau gue random banget) lebih 3 ribu setelah cukup buat beli keperluan sehari-hari. Atau anak ini ngumpulin recehan yang dia cari di jalanan dan ini hasil sebulan pencarian dengan cara-cara yang nggak gampang dan ekstrim sampe di logam terakhir yg dia kumpulin itu dia hampir bertarung sama ayam jago atau anjing liar atau yang lebih serem lagi hampir kelindes truk. Who knows.

    Sekarang balik ke diri gue sendiri. Sekarang harusnya gue mensyukuri hal-hal kecil seperti beli eskrim di indomaret, atau mensyukuri tiap rintangan demi dapetin ‘eskrim’ versi gue sendiri nantinya?

  3. its-a-lovely-night:

    me too, jack. me too.

    (Source: summer---goth)

  4. (Source: olivelociraptor)

  5. (Source: whitesombrero)

  6. Well I know that it seemed like I don’t care at all but I do care. A lot. I just don’t know how to show it in the rite way.

  7. Since tomorrow won’t be as hectic as today, I got plenty of time to dwelling around haha. Even tho yesterday I had to prepare some things for today -which is one of the most hectic day of the week-, my mumet head malah bikin gue bengong-bengong, dan bengong buat gue adalah waktu dimana hal-hal kecil menjadi bercabang dan akhirnya muncul pemikiran-pemikiran yang udah ganyambung-nyambung amat sama pikiran awal-_-

    The conclusion of yesterday’s bengong is about turning dreams into reality. Hipotesis awal gue (eyak) dan emang ini prinsip gue buat waktu yang udah cukup lama, kira-kira gini gue ngetweet kemaren: “Why do human always wanted to turn dreams into reality? Bukannya pada akhirnya merealisasikannya bisa menghancurkan ekspektasi awal mimpi itu?” Pertanyaan ini awalnya retoris, tapi lama-lama emang bisa jadi ga sevalid itu. Biarpun menurut gue “let the dreams be dreams” kalo mimpi ya mimpi aja daripada pas udah kejadian malah ngerusak segalanya, lantas tujuan bermimpi yang sebenernya apa? Wanjir gue ngomong ape ini wakaka.

    Dan dari situ, one of my friends, who is kinda wise, nanggepin racauan gue itu dengan ngejelasin kalo mungkin orang (misalnya dia) pengen tau apa ada dunia diluar sana seperti yang selama ini diimpi-impikan, tryin to figure out whether it’s a reality or it’s just simply a dream. Kalo ga dicoba ya akan begitu terus. Mungkin ibaratnya if you’ll never try you’ll never know. Nah dititik ini gue mulai ga skeptis lagi sama merealisasikan mimpi. Gue malah ngerasa gue pengecut abis, kesannya sepanjang idup gue cuma bakal gue isi dengan sibuk memimpikan sesuatu yang ga akan gue realisasikan atau apapun itu. Oke bahkan sekarang gue gak yakin sama esensi dari postingan ini-_- whatever I’ll keep meracau.

    Mungkin kalo alesan gue ingin menjadikan mimpi itu tetap jadi mimpi karena takut mimpi itu cuma realita biasa yang bisa jadi selanjutnya malah menghancurkan ekspektasi dari mimpi yang udah dibangun sedemikian rupa blablabla, gue cuma common human being bukan pengecut. Tapi hari ini gue baru sadar hal lain yang bikin gue awalnya skeptis about the idea of turning dreams into reality, some parts of me are too scared to admit the fact that sometimes the dream that I wanted so bad to be real is something that will always be dreams, dan kegagalan -dalam hal ini belom sampe kewujud- bakal bikin mimpi itu sendiri jadi sesuatu yang gak menarik lagi, mungkin karena kecewa takut atau apalah, dan cuma pen-deny-an yang akhirnya bisa gue lakuin.

    Dan hal itu jadi bukti, kalo gue emang cuma pecundang, dalam bermimpi sekali pun.

  8. Hai……(Gabisa twitter jadi kabur ke sini)

  9. Maybe a cute date to a jazz club, and a goodnight kiss on the forehead afterwards
  10. oh but then things changed in a way i couldn’t predict
    she said i love you and it suddenly clicked
    that she was only saying what she wanted me to hear
    i said
    please don’t lie
    oh it makes me cry in bed
    and she said
    shut your mouth
    you don’t know what you’re talking about
    Mary-Noah and the Whale

Melani Sub Rosa © by Rafael Martin